TANGERANG – Momen Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Tahun 2026 menjadi momentum penting bagi Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Tangerang untuk menegaskan kembali komitmennya dalam memberikan layanan pendidikan terbaik bagi seluruh anak di wilayah tersebut. Di tengah sorotan mengenai angka anak putus sekolah, Disdik Kabupaten Tangerang justru melihatnya sebagai peluang emas untuk melakukan pembenahan data secara fundamental demi intervensi kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Menanggapi data yang menyebutkan adanya angka putus sekolah yang mencapai kisaran 21 ribu anak tersebar di 29 kecamatan, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang, Dadan Gandana, memberikan penjelasan yang menyejukkan dan solutif. Menurutnya, angka tersebut bukanlah angka statis yang menunjukkan kegagalan, melainkan data dinamis yang terus divalidasi untuk mendapatkan gambaran riil di lapangan.
Seusai upacara peringatan Hardiknas pada Senin (4/5/2026), Dadan Gandana menjelaskan bahwa pihaknya tengah bekerja keras melakukan sinkronisasi data. Ia meluruskan pandangan bahwa tingginya angka tersebut sebagian besar disebabkan oleh faktor administratif dan ketidaksinkronan data, bukan semata-mata karena anak benar-benar berhenti bersekolah.
“Angka sekitar 21 ribu ini bersifat dinamis dan tengah dalam proses koordinasi intensif. Kami menemukan adanya perbedaan data antara daerah dengan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin), serta anomali dalam sistem pendataan,” ujar Dadan dengan nada optimis.
Ia memaparkan, banyak kasus yang tercatat sebagai ‘putus sekolah’ sesungguhnya adalah siswa yang berpindah domisili atau melanjutkan pendidikan ke luar daerah, bahkan ke luar negeri. Namun, karena keterlambatan pembaruan data di sistem Dapodik, status mereka belum berubah.
“Sebagai contoh, ada siswa yang melanjutkan studi ke Jepang. Mereka tetap bersekolah dengan baik, namun di sistem kami masih tercatat sebagai putus sekolah karena data kepindahannya belum diperbarui. Inilah yang sedang kami rapihkan agar datanya akurat,” jelasnya, menepis kekhawatiran publik.
Meskipun fokus pada pembenahan administratif, Dadan menegaskan bahwa Disdik tidak menutup mata terhadap adanya faktor sosial dan ekonomi yang mungkin menghambat anak untuk melanjutkan pendidikan. Justru dengan adanya data yang tercatat ini, Pemerintah Kabupaten Tangerang memiliki basis kuat untuk melakukan intervensi yang tepat.
“Validasi data yang kami lakukan secara masif saat ini bertujuan untuk memastikan intervensi dan bantuan pemerintah tepat sasaran. Kami berkomitmen kuat untuk menekan angka putus sekolah yang murni disebabkan oleh faktor ekonomi atau sosial melalui perbaikan sistem dan penguatan koordinasi lintas lembaga,” tegas Dadan.
Di akhir pernyataannya, Kepala Disdik Kabupaten Tangerang mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berkolaborasi, menjadikan momen Hardiknas ini sebagai titik tolak untuk bersama-sama memastikan tidak ada anak yang kehilangan hak pendidikannya.
“Ini adalah perhatian kita bersama. Semangat Hardiknas adalah semangat kolaborasi. Kami di pemerintahan, bersama-sama dengan orang tua dan masyarakat, memiliki tanggung jawab untuk memastikan masa depan pendidikan anak-anak kita terjamin,” pungkasnya penuh harap.
(San)

