Terbentur Modal Alat Usaha, Warga Pasanggrahan Curhat ke LKM AKR

Dery20
By Dery20

POJOKNUSANTARA – Forum sosialisasi yang digelar di kediaman tokoh masyarakat Bapak Abdurrahman Hz di Taman Kirana Blok A2, Desa Pasanggrahan, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang, Selasa (19/5/2026) sore, berubah menjadi ajang penyampaian aspirasi. Para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat memanfaatkan momen tersebut untuk mencurahkan keluhan terkait keterbatasan alat produksi dan trauma kegagalan masa lalu kepada lembaga keuangan.

Keluhan pertama disampaikan oleh Yanti, seorang ibu rumah tangga yang sedang merintis usaha makanan beku (frozen food). Ia mengaku produknya mulai kalah bersaing di pasaran karena terpaksa mengandalkan kulkas rumah tangga biasa sebagai tempat penyimpanan akibat keterbatasan modal kerja.

“Saat ini saya kewalahan dan kalah bersaing karena keterbatasan alat. Sekarang saya terpaksa menggunakan kulkas biasa yang sebenarnya untuk pendingin sayur,” ujar Yanti.

Menurutnya, suhu yang tidak maksimal dari kulkas rumahan tersebut langsung menurunkan kualitas dan daya tahan produk dagangannya. Yanti menegaskan sangat membutuhkan modal untuk membeli freezer khusus makanan beku agar usahanya dapat bertahan dan berkembang.

Keluhan serupa juga datang dari seorang pedagang sayur di desa tersebut. Ia melihat peluang bisnis jasa sol sepatu untuk melayani banyaknya pengrajin lokal (home industry) yang selama ini harus pergi jauh ke Cikupa. Namun, rencana untuk memangkas rantai operasional tersebut terhambat akibat tidak adanya modal untuk membeli mesin sol sepatu.

Selain kendala modal fisik, pelaku usaha lain bernama Imron membeberkan tantangan psikologis yang dihadapi warga. Sambil menahan emosi, Imron menceritakan pengalaman pahitnya yang berulang kali gagal bisnis hingga sempat terjerat utang besar di salah satu bank konvensional. Pengalaman itu menyisakan trauma mendalam bagi dirinya dan warga sekitar untuk kembali berhubungan dengan lembaga keuangan.

“Harapan kami, tolong jangan hanya datang untuk menawarkan pinjaman modal saja. Kami sangat butuh dibimbing dan dibantu bagaimana caranya membangun serta mengelola usaha yang benar dari dasar, supaya modal yang dipinjamkan benar-benar produktif,” kata Imron tegas.

Mendengar rentetan keluhan tersebut, Direktur Utama PT LKM Artha Kertaraharja (AKR), Denny Hikmat, langsung memberikan respons menyeluruh. Denny membawa kabar baik bahwa lembaga keuangan milik pemerintah daerah tersebut kini telah resmi bertransformasi menjadi LKM Syariah AKR guna mengedepankan prinsip keadilan, transparansi margin, dan bebas riba.

Terkait kebutuhan freezer dan mesin sol sepatu, Denny menegaskan pihak LKM Syariah AKR siap memfasilitasi pengadaan barang modal tersebut lewat skema syariah yang ramah bagi pelaku usaha mikro. Meski demikian, ia mengingatkan warga untuk tetap menjaga rasio keuangan yang sehat.

“Kami mengedukasi agar masyarakat cerdas mengukur kapasitasnya. Idealnya, total seluruh cicilan tidak boleh melebihi rasio sehat, yaitu maksimal 30 persen dari pendapatan bulanan. Ini penting agar keuntungan dari alat baru bisa dipakai membesarkan usaha, bukan habis untuk bayar utang,” urai Denny.

Menjawab kekhawatiran Imron mengenai trauma masa lalu, Denny menjelaskan bahwa LKM Syariah AKR mengusung misi saling tolong-menolong (ta’awun), bukan sekadar mencari profit semata. Pihaknya berkomitmen memberikan pembinaan pasca-pembiayaan, mulai dari pengelolaan keuangan kelompok, pencatatan arus kas, hingga strategi bisnis dari dasar.

Di akhir forum yang berlangsung hingga pukul 17.30 WIB tersebut, Denny juga memberikan peringatan keras (warning) kepada warga Desa Pasanggrahan agar tidak tergiur jalan pintas yang ditawarkan oleh pinjaman online (pinjol) ilegal maupun bank keliling.

“Itu adalah jebakan Batman. Bunganya mencekik, tidak transparan, dan cara penagihannya seringkali merusak tatanan sosial serta psikologis nasabah,” tegas Denny.

Ia menambahkan, kehadiran LKM Syariah AKR yang berizin resmi dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diharapkan mampu menjadi benteng pertahanan ekonomi masyarakat Kabupaten Tangerang agar terhindar dari praktik rentenir modern.

(Der)

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *