Tangerang – Sebagai aktivis pemuda, saya melihat fenomena ini bukan sekadar persoalan “anak nakal”. Ini adalah tanda adanya krisis ruang ekspresi dan pencarian identitas yang salah arah.
Jujur, hati saya bergetar. Bukan karena takut, melainkan karena prihatin. Adik-adik kita—aset masa depan bangsa—justru menghabiskan energi di bulan suci dengan aktivitas yang bertaruh nyawa: balap liar, perang sarung, hingga petasan. Ramadan yang seharusnya menjadi momentum memperbaiki diri, malah berubah menjadi arena adu gengsi dan keberanian semu.
Saya pernah tumbuh dan ditempa dalam organisasi kepemudaan. Saya paham, energi anak muda memang meluap. Namun energi tanpa arah adalah awal kehancuran. Jika tidak dibimbing, ia bisa berubah menjadi ledakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
Untuk adik-adikku di jalanan, ketahuilah: keberanian sejati bukan ada pada gas motor yang dipelintir kencang atau sarung yang diisi batu. Keberanian itu ada di kepala dan di dada—dalam kemampuan mengendalikan diri. Ingat wajah ibu yang menunggumu pulang untuk sahur. Jangan biarkan Ramadan tahun ini berakhir di rumah sakit atau bahkan di balik jeruji besi. Kalian calon pemimpin. Mulailah dengan memimpin diri sendiri.
Untuk para orang tua sebagai garda terdepan, mari kita lebih tegas demi keselamatan. Pastikan anak-anak sudah berada di rumah maksimal pukul 22.00 WIB. Jangan beri izin kendaraan hanya untuk ajang gagah-gagahan. Pengawasan hari ini adalah wujud kasih sayang yang paling nyata.
Ramadan adalah bulan kemenangan melawan nafsu, bukan bulan memupuk permusuhan. Mari kita jaga marwah bulan suci ini dengan kedamaian. Jangan sampai tangis penyesalan hadir di hari Lebaran hanya karena kelalaian kita hari ini.
Karena masa depan bangsa ini sedang kita pertaruhkan di jalanan, di rumah, dan dalam keputusan-keputusan kecil yang kita anggap sepele.
Ade Putra Aktivis Kabupaten Tangerang

