TANGERANG – Di balik riuh rendah pembangunan kawasan industri dan pemukiman padat di Kabupaten Tangerang, terselip sosok yang membawa nuansa berbeda dalam birokrasi. Intan Nurul Hikmah, Wakil Bupati Tangerang, hadir bukan sekadar sebagai pengisi kursi kekuasaan, melainkan sebagai representasi keteguhan dan empati seorang perempuan di panggung politik yang kerap didominasi pria.
1. Melampaui Nama Besar
Bagi masyarakat Tangerang, nama “Hikmah” tentu tidak asing. Sebagai adik kandung dari mantan Bupati Ahmed Zaki Iskandar dan putri dari tokoh legendaris Ismet Iskandar, Intan membawa beban ekspektasi yang besar. Namun, dalam kesehariannya, Intan berhasil membuktikan bahwa ia bukan sekadar “penerus dinasti”.
“Politik bagi saya adalah jalan untuk memperluas jangkauan tangan kita dalam membantu orang lain,” ujar Intan dalam sebuah kesempatan. Ia melangkah dengan gayanya sendiri—lebih cair, komunikatif, dan sangat memerhatikan detail yang sering kali luput dari meja rapat formal.
2. Fokus pada Akar Rumput: Ibu, Anak, dan UMKM
Jika Anda mengikuti agenda kerja Intan, Anda akan sering menemukannya di gang-gang sempit desa atau di tengah kerumunan pelaku UMKM. Fokusnya jelas: pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.
Ia adalah motor penggerak di balik berbagai program penurunan angka stunting di Kabupaten Tangerang. Baginya, masa depan daerah tidak hanya dibangun dengan aspal dan beton, tapi dengan gizi yang cukup untuk anak-anak di pelosok desa.

Beberapa poin yang menjadi ciri khas kepemimpinannya meliputi:
Literasi Digital bagi Ibu Rumah Tangga: Mendorong para ibu untuk melek teknologi agar bisa membantu ekonomi keluarga melalui jualan online.
Ruang Aman Anak: Mengadvokasi terciptanya lebih banyak taman bermain dan fasilitas publik yang ramah anak.
Pemberdayaan UMKM: Memastikan produk lokal Tangerang mendapatkan panggung di pasar nasional.
3. Gaya Kepemimpinan yang Humanis
Rekan kerjanya sering menyebut Intan sebagai sosok yang “teliti namun rendah hati”. Ia tidak segan turun langsung untuk memastikan bantuan sosial sampai ke tangan yang tepat. Kehadirannya di lapangan sering kali memecah kekakuan birokrasi; ia bisa berbincang akrab dengan petani, lalu beralih ke forum resmi dengan wibawa yang sama kuatnya.
Di tengah kesibukannya, Intan tetap menekankan pentingnya keseimbangan antara peran sebagai pejabat publik dan peran di dalam keluarga. Keseimbangan inilah yang menurutnya menjadi sumber energi untuk terus mengabdi bagi masyarakat Tangerang.
“Kepemimpinan bukan soal siapa yang paling keras suaranya, tapi siapa yang paling mampu mendengar bisikan kebutuhan rakyatnya.” — Intan Nurul Hikmah
4. Masa Depan Tangerang
Kini, dengan tantangan urbanisasi yang semakin kompleks, publik menaruh harapan besar pada pundak Intan. Apakah sentuhan “tangan dingin” seorang perempuan mampu membawa Kabupaten Tangerang menjadi daerah yang tidak hanya maju secara ekonomi, tapi juga inklusif dan ramah bagi setiap lapisan warganya? Waktu yang akan menjawab, namun langkah kaki Intan di lapangan menunjukkan ia sedang bekerja keras menuju sana.