TANGERANG – Banten berduka. Ribuan jemaah dari berbagai daerah memadati Pondok Pesantren Al-Hijaiyan, Kampung Rimpak, Desa Sindang Sono, Kecamatan Sindang Jaya, Kabupaten Tangerang, untuk mengantarkan ulama karismatik KH Ahmad Fudoli ke tempat peristirahatan terakhir, Senin (7/9/2026).
Jenazah almarhum dimakamkan di belakang Majlis Ta’lim KH Fudoli yang berada di dalam kompleks Pondok Pesantren Al-Hijaiyan. Sejak pagi, arus pelayat terus berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sosok ulama yang selama puluhan tahun dikenal membina umat, mendidik santri, dan menjadi rujukan masyarakat dalam dakwah keislaman.
Prosesi pemakaman berlangsung khidmat. Lantunan ayat suci Al-Qur’an, tahlil, dan doa mengiringi prosesi pemakaman yang dihadiri ribuan jemaah. Area pondok pesantren hingga akses menuju lokasi dipenuhi masyarakat yang ingin mengantarkan almarhum untuk terakhir kalinya.
Sejumlah pejabat dan tokoh turut hadir menyampaikan belasungkawa, di antaranya Gubernur Banten Andra Soni, Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid, Sekretaris Daerah Kabupaten Tangerang Soma Atmaja, serta mantan Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar. Kehadiran para pemimpin daerah tersebut menjadi cerminan besarnya penghormatan terhadap almarhum yang semasa hidup dikenal sebagai ulama yang memiliki pengaruh luas di tengah masyarakat Banten.
Di sela-sela takziah, Gubernur Banten Andra Soni menyampaikan rasa kehilangan atas wafatnya KH Ahmad Fudoli. Menurutnya, almarhum merupakan sosok guru yang karismatik dan telah memberikan teladan bagi masyarakat.
«”Terima kasih atas kekuatan dari guru kita, yaitu sosok yang karismatik, dan semoga almarhum husnul khatimah. Dan tentu kita semua kehilangan, semoga keluarga diberikan kekuatan dan semoga amal ibadah beliau diterima oleh Allah Yang Maha Kuasa,” ujar Andra Soni.»
Ia mengajak masyarakat untuk menjaga dan melanjutkan nilai-nilai kebaikan yang telah diwariskan almarhum.
«”Hal-hal baik yang ada di diri beliau, kita harus contoh dan kita ikuti bersama. Saya pribadi tidak terlalu banyak berinteraksi, tapi dalam kelompoknya, beliau sangat dekat dengan jemaah,” katanya.»
Wafatnya KH Ahmad Fudoli meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga dan santri, tetapi juga masyarakat Banten. Ribuan pelayat yang hadir menjadi bukti besarnya kecintaan umat kepada sosok ulama yang dikenal rendah hati, istiqamah dalam berdakwah, serta konsisten mengabdikan hidupnya untuk pendidikan dan pembinaan keagamaan.
Kepergian KH Ahmad Fudoli menjadi kehilangan besar bagi Banten. Namun, keteladanan, ilmu, dan nilai-nilai dakwah yang diwariskannya diyakini akan terus hidup melalui para santri, jemaah, dan masyarakat yang selama ini merasakan manfaat dari pengabdiannya.
(Shan)


