TANGERANG, – Ratusan warga Kampung Cengkok, Desa Sentul, Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang, menggelar aksi protes terhadap aktivitas industri PT Sukses Logam Indonesia (PT SLI). Dalam aksi jalan kaki (longmarch) tersebut, warga menyuarakan keresahan mereka dengan membentangkan spanduk dan poster yang ditujukan langsung kepada sejumlah tokoh nasional, mulai dari Presiden Prabowo Subianto hingga Yusril Ihza Mahendra.
Di barisan depan aksi, tampak warga membentangkan spanduk berlatar hitam bertuliskan “Pak Prabowo, Pak Yusril, Pak Jumhur, datang ke kampung kami. Lihat dan rasakan penderitaan kami”. Selain itu, terdapat pula poster tajam yang menyinggung Yusril Ihza Mahendra bertuliskan “Pak Yusril: Jangan karna setitik saham anak, merusak nama baik Anda”, serta spanduk perlawanan bertuliskan “MAKIN DITEKAN MAKIN MELAWAN”.

Aksi demonstrasi ini dipicu oleh aktivitas pemantauan partisipatif yang dilakukan warga selama masa uji coba produksi PT SLI pada 3–9 September 2026. Berdasarkan laporan Aliansi Masyarakat Cengkok, warga masih merasakan bau kimia menyengat, debu halus, dan suara bising yang berasal dari proses pengolahan bahan baku pabrik.
Dampak dari paparan polusi tersebut dirasakan langsung oleh fisik masyarakat sekitar. Sejumlah warga melaporkan timbulnya keluhan kesehatan seperti mual, pusing/sakit kepala, dan sakit tenggorokan. Bahkan, lansia di daerah terdampak terpaksa harus bergantung pada bantuan selang oksigen portabel untuk melegakan pernapasan.
Tidak hanya kesehatan, aktivitas harian warga pun terganggu. “kegiatan Taman Baca Masyarakat (TBM) dan pengajian anak-anak di petang hari harus dihentikan karena bau dan bising,” ujar Ketua Aliansi Warga Cengkok, Ilham Roza.
Hal lain yang disayangkan warga adalah operasional PT SLI yang diduga tetap berjalan meskipun masa uji coba produksi telah rampung. Warga mengungkapkan bahwa petugas dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sebelumnya sempat menginfokan bahwa pabrik wajib menghentikan operasional begitu alat pemantau dicabut. Namun, pasca uji coba, bau menyengat dan kebisingan justru dirasakan semakin parah.
Selain itu, Ilham mengkritik sikap manajemen pabrik yang dinilai alih-alih melakukan perbaikan instalasi pengolahan limbah/emisi, justru diduga memobilisasi pegawai hingga memicu potensi konflik horizontal di masyarakat.
“Kalau memiliki itikad baik, mestinya PT SLI konsentrasi melakukan perbaikan agar kegiatan operasinya tidak mengganggu. Karena selama masih mengganggu, warga dipastikan akan terus protes memperjuangkan hak hidup nyaman dan sehat,” tegas Ilham.
Melalui aksi ini, Aliansi Masyarakat Cengkok secara resmi mendesak Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) serta Pemerintah Kabupaten Tangerang untuk memprioritaskan keselamatan dan hak hidup sehat warga.
Masyarakat menuntut pemerintah untuk segera mengevaluasi kelayakan operasional pabrik tersebut secara menyeluruh. Apabila ditemukan pelanggaran atau dampak lingkungan yang tidak dapat diatasi, warga meminta ketegasan pemerintah untuk menghentikan operasional secara permanen serta merelokasi/memindahkan lokasi usaha PT SLI keluar dari wilayah pemukiman warga.
(RED)