Langkah Strategis Pemprov Banten, Sampah Diproyeksikan Jadi Energi Listrik

Langkah Strategis Pemprov Banten, Sampah Diproyeksikan Jadi Energi Listrik

By Dery20

Serang — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten mengambil langkah strategis dalam penanganan sampah dengan mendorong percepatan program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).

Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan kesepakatan bersama antara Gubernur Banten Andra Soni dengan pemerintah kabupaten/kota di wilayah Serang Raya, serta dukungan pengembangan di kawasan Tangerang Raya. Kegiatan tersebut berlangsung di Pendopo Gubernur Banten, Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Kota Serang, Jumat (27/3/2026).

Hadir dalam kegiatan tersebut Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq.

Gubernur Banten Andra Soni menegaskan, program PSEL tidak hanya menjadi solusi dalam penanganan sampah, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam mendukung ketahanan energi dan pertumbuhan ekonomi daerah.

“Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah merupakan fondasi utama dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang modern, terintegrasi, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberhasilan program ini memerlukan komitmen berkelanjutan, koordinasi intensif, serta pengawasan yang kuat agar pelaksanaannya berjalan efektif dan akuntabel.

Selain itu, Andra juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif dalam pengelolaan sampah, terutama melalui pemilahan sejak dari sumbernya.

“Permasalahan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama. Pemilahan sampah harus terus dilakukan agar volume sampah bisa ditekan,” katanya.

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyebut kesepakatan ini merupakan bagian dari langkah besar dalam mendukung kebijakan nasional pengelolaan sampah.

Ia mengungkapkan, potensi sampah yang akan diolah dari wilayah Serang Raya dan Tangerang Raya mencapai sekitar 4.000 ton per hari.

“Ke depan, sampah tersebut akan direduksi menjadi energi listrik sebagai bagian dari penyelesaian masalah sampah di daerah,” ujarnya.

Hanif menambahkan, keberhasilan program ini sangat bergantung pada pemilahan sampah sejak dari hulu. Tanpa pemilahan yang baik, biaya pengolahan akan meningkat signifikan.

“Dari peletakan batu pertama hingga operasional biasanya memakan waktu 2,5 hingga 3 tahun. Apapun teknologinya, fondasi dasarnya adalah sampah harus terpilah,” jelasnya.

Program ini diharapkan tidak hanya mampu mengurangi beban lingkungan, tetapi juga meningkatkan efisiensi anggaran pemerintah, baik pusat maupun daerah, melalui pengelolaan sampah yang lebih optimal.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version