JAKARTA, — Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyat (LPER) menggelar silaturahmi sekaligus Halal Bihalal dalam rangka Idulfitri 2026 di Epiwalk, Kuningan, Jakarta, Jumat (10/04/2026).
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang temu dan saling memaafkan, tetapi juga forum strategis membahas isu-isu krusial seperti ekonomi pertanian, digitalisasi, hingga pengembangan industri baterai di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

Sekretaris Jenderal LPER, Prof. Francisca Sestri, yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Insan Pembangunan Indonesia (UNIPI), menegaskan bahwa kegiatan Halal Bihalal kali ini dirancang berbeda dari biasanya.
Selain mempererat silaturahmi, forum ini menghadirkan diskusi lintas sektor dengan melibatkan pengurus LPER dan berbagai asosiasi, mulai dari Forum BUMDes tingkat daerah hingga organisasi tingkat nasional.
“Situasi ekonomi global saat ini tidak baik-baik saja. Karena itu, diperlukan pemikiran strategis dan kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ekonomi rakyat,” ujarnya.
Sementara itu Direktur Utama PT Platinum Wira Persada sekaligus Dewan Pengawas LPER, Harianto Muin, dalam sambutannya mengungkapkan rencana ekspansi bisnis ke sektor industri baterai.
Ia menyebut, pengembangan industri tersebut membutuhkan dukungan modal dan teknologi yang kuat, termasuk peluang kerja sama riset dengan pihak luar negeri seperti China.
“Kami membuka peluang kolaborasi, termasuk riset teknologi untuk memperkuat industri baterai ke depan,” kata Harianto.
Disisi lain, Ketua Dewan Pengawas LPER, Farida Dwi Cahyarini, menyoroti pentingnya percepatan literasi digital bagi pelaku usaha kecil dan petani. Ia mendorong pemanfaatan sistem transaksi digital seperti QRIS dan transfer berbasis smartphone sebagai bagian dari adaptasi terhadap perkembangan teknologi.
“Digitalisasi menjadi kunci. Dengan transaksi non-tunai, masyarakat akan semakin terbiasa dan mampu mengikuti perkembangan zaman,” jelasnya.
Dalam sesi diskusi, Guru Besar Ilmu Pertanian UISU Sumatera Utara, Prof. Nurhayati Daud, menekankan pentingnya hilirisasi pertanian berbasis teknologi. Ia menilai kolaborasi antara pemerintah dan akademisi sangat dibutuhkan untuk menciptakan sistem pertanian modern yang mampu menarik minat generasi muda sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Pertanian harus menjadi sektor yang modern, produktif, dan mampu bersaing dengan produk impor,” ungkapnya.
Diskusi turut menghadirkan Ketua Umum PERPINA, Veve Safitri, yang menekankan pentingnya kepemimpinan perempuan yang berwawasan global serta aktif menjangkau masyarakat hingga ke tingkat akar rumput.
Menutup rangkaian acara, Ketua Umum LPER, Haryo Tienmar, menegaskan pentingnya kemandirian organisasi dalam menghadapi tantangan ekonomi saat ini.
Menurutnya, LPER harus mampu menjadi motor penggerak dalam mendorong kesejahteraan masyarakat, khususnya melalui penguatan sektor UMKM.
“Kemandirian dan kolaborasi menjadi kunci agar kita mampu bertahan dan tumbuh di tengah situasi yang tidak menentu,” tegasnya.
Acara berlangsung dinamis dengan diskusi interaktif antar peserta, mencerminkan komitmen LPER dalam memperkuat peran strategisnya dalam pemberdayaan ekonomi rakyat di era digital.
(San)