TANGERANG – Upaya percepatan eliminasi Tuberkulosis (TBC) terus diperkuat di Kabupaten Tangerang. Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang melalui Puskesmas Cisoka menggelar kegiatan skrining TBC bagi masyarakat di Aula Masjid Jami’ Ar-Rohman, Perumahan Puri Harmoni Cisoka 3, Senin (5/10/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari strategi deteksi dini untuk menemukan kasus TBC sedini mungkin, sehingga pasien dapat segera memperoleh pengobatan dan memutus rantai penularan di tengah masyarakat.
Kepala Puskesmas Cisoka, drg. Reta Rianti, mengatakan skrining aktif menjadi langkah penting dalam meningkatkan cakupan penemuan kasus sekaligus mendukung target nasional eliminasi TBC pada 2030.
“Gejala TBC umumnya berupa batuk lebih dari tiga minggu, tubuh terasa lemas, penurunan berat badan, hingga berkurangnya nafsu makan. Masyarakat yang mengalami gejala tersebut kami imbau segera memeriksakan diri ke puskesmas agar bisa mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut,” ujarnya.
Ia menjelaskan, warga yang terindikasi mengalami gejala akan menjalani pemeriksaan menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM) melalui sampel dahak. Apabila hasilnya positif, pasien akan langsung mendapatkan terapi obat antituberkulosis sesuai standar pelayanan.
Menurutnya, pengobatan TBC berlangsung selama enam bulan dengan pengawasan minum obat secara ketat. Selain itu, petugas kesehatan juga melakukan kunjungan rumah secara berkala guna memastikan pasien menjalani pengobatan hingga tuntas.
“Keberhasilan pengobatan sangat bergantung pada kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat. Karena itu, kami terus melakukan pendampingan dan pemantauan secara rutin,” katanya.
Tak hanya fokus pada pasien, Puskesmas Cisoka juga melakukan pelacakan terhadap anggota keluarga maupun masyarakat yang memiliki kontak erat dengan penderita TBC sebagai langkah pencegahan penularan lebih luas.
Di sisi lain, edukasi mengenai pola hidup sehat terus digencarkan. Masyarakat diimbau menjaga daya tahan tubuh dengan gizi seimbang, menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta memastikan rumah memiliki ventilasi, pencahayaan, dan sanitasi yang memadai.
“Kondisi lingkungan yang sehat sangat berpengaruh dalam mencegah penyebaran TBC. Karena itu kami juga berkolaborasi dengan petugas kesehatan lingkungan untuk memantau kondisi rumah pasien secara langsung,” jelas drg. Reta.
Ia menambahkan, peningkatan jumlah kasus TBC yang ditemukan di wilayah Cisoka dalam beberapa tahun terakhir merupakan hasil dari semakin masifnya kegiatan skrining dan Active Case Finding (ACF), bukan semata-mata karena meningkatnya angka penularan.
“Kami semakin aktif turun ke masyarakat melalui kegiatan skrining yang terintegrasi. Harapannya, semakin banyak kasus ditemukan lebih awal sehingga semakin banyak pasien yang dapat segera diobati,” tuturnya.
Berdasarkan data Puskesmas Cisoka, target penemuan kasus TBC di Kecamatan Cisoka pada 2026 sebanyak 464 kasus. Hingga awal Oktober 2026, sebanyak 290 kasus telah berhasil ditemukan. Upaya skrining aktif akan terus diperluas untuk mencapai target sekaligus meningkatkan keberhasilan pengobatan.
Melalui deteksi dini, pengobatan yang tuntas, serta kolaborasi lintas sektor, Pemerintah Kabupaten Tangerang optimistis dapat menekan angka penularan TBC dan mendukung terwujudnya target eliminasi Tuberkulosis tahun 2030.

