Tangerang — Dalam rangka memperingati Hari Kartini 21 April 2026, Rektor UNIPI Tangerang yang juga Sekretaris Jenderal Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyat (LPER), Prof. Dr. Francisca Sestri, menggagas sebuah refleksi akademik dengan mewawancarai sejumlah tokoh pendidikan tinggi.
Prof. Dr. Francisca Sestri, menghadirkan refleksi akademik melalui wawancara dengan sejumlah pakar pendidikan tinggi. Dari hasil perbincangan tersebut, Prof. Sestri menyimpulkan bahwa pemikiran R.A. Kartini tetap relevan sebagai fondasi kepemimpinan perempuan masa kini—yakni kepemimpinan yang tidak hanya berorientasi pada peran, tetapi juga berbasis intelektualitas, karakter kuat, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Melalui edisi khusus tersebut, Prof. Sestri menekankan bahwa gagasan Kartini tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi terus hidup sebagai inspirasi dalam dunia pendidikan dan pemberdayaan perempuan masa kini.
Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., menegaskan bahwa Kartini merupakan sosok intelektual yang melampaui zamannya.
Ia menilai perempuan masa depan harus mampu tampil sebagai pemimpin berbasis keilmuan, tidak hanya dalam jabatan struktural, tetapi juga sebagai peneliti dan inovator yang menghasilkan karya berdampak.
“Ke depan, kita berharap semakin banyak perempuan yang memiliki kapasitas intelektual kuat dan berperan sebagai leader di bidang keilmuan. Mereka harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan AI secara etis dalam riset dan pendidikan,” ujar Prof. Ova.
Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual, ketangguhan mental, dan nilai spiritual dalam menghadapi dunia yang semakin kompetitif. Selain itu, perempuan diharapkan mampu menjadi mentor yang membuka ruang berkembang bagi generasi berikutnya.

Sementara itu, Rektor UGM periode 2017–2022, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., menilai pemikiran Kartini tetap relevan sebagai landasan pembinaan kepemimpinan perempuan. Ia menyoroti tantangan generasi masa kini, seperti kecenderungan pada budaya instan, ketergantungan terhadap validasi sosial, hingga menurunnya ketekunan dalam menjalani proses.
“Nilai Kartini mengajarkan keberanian berpikir, kemandirian, dan integritas. Ini penting untuk menggantikan budaya instan dengan budaya proses, pembelajaran berkelanjutan, dan disiplin diri,” ungkapnya.
Menurut Prof. Panut, perempuan pemimpin masa kini perlu membangun kepercayaan diri berbasis kompetensi dan kontribusi nyata, serta mengedepankan semangat kolektif dibandingkan individualisme.
Pandangan serupa disampaikan Guru Besar Sosiologi Hukum Universitas Trisakti, Prof. Dr. Drs. Trubus Rahardiansah Prawiraharja, M.Si., S.H., M.H. Ia menilai pemikiran Kartini sangat kontekstual dengan dinamika sosial saat ini yang ditandai oleh perubahan cepat di bidang teknologi dan lingkungan.
“Perempuan masa kini dituntut memiliki kecerdasan yang terus diperbarui, namun tetap berakar pada nilai-nilai budi pekerti luhur yang diajarkan dalam keluarga dan pendidikan,” ujarnya.
Ia menambahkan, perpaduan antara kecerdasan dan karakter akan melahirkan sosok Kartini masa kini yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.
Refleksi yang dihimpun Prof. Sestri tersebut menegaskan bahwa semangat Kartini tidak lekang oleh waktu. Lebih dari sekadar simbol emansipasi, Kartini menjadi inspirasi bagi lahirnya perempuan-perempuan tangguh yang berintegritas, adaptif, dan visioner dalam menghadapi tantangan global.
Dengan meneladani nilai-nilai tersebut, perempuan Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari pembangunan, tetapi juga menjadi motor penggerak perubahan menuju masyarakat yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan.
(San)