Potret Kemiskinan di Kabupaten Tangerang: Rumah Nenek 75 Tahun Di Tigaraksa Nyaris Roboh

Potret Kemiskinan di Kabupaten Tangerang: Rumah Nenek 75 Tahun Di Tigaraksa Nyaris Roboh

Dery20
By Dery20

TANGERANG — Potret kemiskinan ekstrem kembali terlihat jelas di Kabupaten Tangerang. Seorang nenek renta berusia 75 tahun, Mursani, warga Kampung Matagara RT 002 RW 002, Desa Matagara, Kecamatan Tigaraksa, terpaksa bertahan hidup di rumah yang kondisinya nyaris roboh dan mengancam keselamatan jiwa.

Rumah yang dihuni nenek Mursani bersama cucu perempuannya yang masih duduk di bangku SMP itu berdiri hanya berkat penyangga bambu seadanya. Jika penopang itu runtuh, bangunan bisa ambruk kapan saja.

Pantauan awak media di lokasi, Sabtu (14/2/2026), memperlihatkan atap rumah ditahan tiang-tiang bambu, sementara rangka bangunan hanya terikat tali dari kulit bambu. Struktur tampak rapuh dan memprihatinkan.

“Tadinya lebih parah, hampir roboh. Untung tetangga peduli bantu pasang bambu,” ujar nenek Mursani.

Kondisi rumah bukan hanya reyot, tetapi juga sangat berbahaya. Tanpa plafon, kabel listrik tampak berseliweran di hampir seluruh ruangan.

Situasi ini menjadi ancaman serius, terutama saat hujan turun. Air yang masuk bisa memicu korsleting hingga kebakaran.

Tak hanya itu, kebocoran parah membuat air hujan masuk tanpa ampun. Nenek Mursani harus menyiapkan ember dan wadah penampung di berbagai sudut rumah demi menghindari genangan.

Yang lebih memprihatinkan, kondisi kamar mandi rumah tersebut sangat tidak manusiawi. Ruangan itu nyaris terbuka, hanya ditutup bilik transparan yang dapat terlihat jelas dari luar.

Lantai rumah pun bercampur tanah, menciptakan suasana kumuh dan tidak sehat, terutama bagi seorang lansia dan anak pelajar.

Nenek Mursani mengaku sudah pernah diajukan masuk program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) melalui Kecamatan Tigaraksa. Namun hingga kini, tidak ada kejelasan.

“Katanya sudah diajukan, tapi nggak ada kabar sama sekali. Saya juga nggak tahu ditolak atau bagaimana,” katanya.

Ironisnya, ia menyebut pihak Pemerintah Desa Matagara pun belum pernah datang meninjau kondisi rumahnya, meski kondisinya sangat mengkhawatirkan.

Nenek Mursani hanya berharap tempat tinggalnya bisa menjadi rumah yang aman, bukan jebakan maut bagi dirinya dan sang cucu.

“Pengennya ada bantuan, biar aman. Saya kasihan sama cucu masih kecil, harusnya punya rumah yang sehat,” ucapnya.

Awak media telah menghubungi Camat Tigaraksa Cucu Abdurrosyied melalui WhatsApp untuk meminta penjelasan terkait mekanisme RTLH dan kondisi rumah nenek Mursani. Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada jawaban.

 

(Sandhy)

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *